Gunung Poco Ndeki

Published: Monday, 27 January 2014

Gunung Poco Ndeki menawarkan wisata petualangan yang menarik dan menantang. Gunung Poco Ndeki memiliki hutan tropis yang sangat rimbun dan kaya akan varietas flora dan fauna.

Poco Ndeki merupakan habitat bagi beberapa jenis burung yang sangat menarik dan langka seperti Lawe Lujang yang memiliki ukuran tubuh kecil dan dua ekor yang cukup panjang dengan corak warna yang sangat indah serta memiliki kicauan yang merdu. Gunung Poco Ndeki juga menjadi habitat bagi beberapa jenis satwa seperti Tikus, Kera ekor panjang, Babi Hutan, Landak, serta beberapa jenis ular seperti Ular Sawah, dan Ular Hijau.

Selain menikmati aneka ragam flora dan fauna, Gunung Poco Ndeki juga memiliki daya tarik wisata budaya yang tersembunyi dan menanti wisatawan untuk menjelajahinya. Di lereng Gunung Poco Ndeki terdapat sebuah situs bekas kampung dari nenek moyang warga Suku Motu Poso yang sekarang bermukim di kampung Sere dan Kisol. Di situs ini masih tertinggal beberapa gundukan batu berbentuk altar (Compang), dan juga tanaman kelapa, kemiri, kopi, limau, dan belimbing, yang dulu mereka tanam dan perkirakan telah berumur ratusan tahun.

Selain itu, di puncak Gunung Poco Ndeki terdapat dua buah batu yang menyerupai kelamin laki-laki dan perempuan. Warga suku Motu Poso menamai kedua batu tersebut Watu Embu Kodi Haki (batu laki-laki) dan Watu Embu Kodi Fai (batu perempuan). Kedua batu ini diyakini sebagai batu nenek moyang dari warga suku Motu Poso dan berada terpisah satu sama lain.

Watu Embu Kodi Haki berada di bagian selatan dari puncak Poco Ndeki. Batu ini menyerupai zakar yang berdiri tegak dengan ukuran tinggi dari permukaan tanah sekitar 30cm dan diameter 15 cm. Uniknya Batu Laki-laki ini bisa digoyang-goyang ke segala arah namun sangat kokoh dan tidak bisa dicabut.

Sementara Watu Embu Kodi Fai berada di sebelah utara puncak Poco Ndeki dan terletak di dalam gua batu yang tidak terlalu dalam. Hal yang unik pada Watu Embu Kodi Fai adalah permukaan batu yang membentuk sudut segi tiga yang selalu basah dan berair meskipun batu ini berada di dalam gua yang kering dan tidak terkena rembesan air hujan atau embun.

Transportasi

Apabila terjadi musim kemarau yang berkepanjangan, masyarakat setempat melakukan ritual unik yaitu mendatangi kedua batu tersebut lalu memberi sesajian berupa telur ayam, beras merah, sirih dan pinang, serta tembakau untuk meminta hujan.

Lainnya...

Hits: 995

Jajak Pendapat

Bagaimana website ini?

Menarik - 60.8%
Biasa saja - 15.8%
Buruk - 11.4%

Total votes: 158
The voting for this poll has ended on: December 31, 2014

Statistik web

Today1182
Yesterday1417
This week8599
This month32523
Total756239
Sunday, 28 May 2017

Informasi Cuaca

Kupang